PALANGKA RAYA, JURNAL88.Id -Gubernur Kalimantan Tengah(Kalteng) Agustiar Sabran bersama General Manager PT PLN (Persero) Unit Induk Distribusi Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah (UID Kalselteng) Iwan Soelistijino menemui langsung massa aksi yang menggelar unjuk rasa di depan Istana Isen Mulang, Kantor Gubernur Kalimantan Tengah, Kamis (30/7). Pertemuan tersebut dilakukan untuk mendengarkan aspirasi masyarakat sekaligus memberikan penjelasan terkait pemadaman listrik bergilir yang terjadi dalam beberapa hari terakhir.
Di hadapan para pendemo, Agustiar menegaskan pemerintah provinsi tidak tinggal diam dan terus berkoordinasi dengan PLN agar persoalan kelistrikan segera diselesaikan. Menurutnya, keresahan masyarakat juga menjadi keresahan pemerintah daerah.
“Kegaduhan masyarakat Kalimantan Tengah adalah kegaduhan kami. Ketidaknyamanan masyarakat juga menjadi ketidaknyamanan kami. Karena itu saya memanggil langsung pihak PLN untuk memberikan penjelasan yang jelas kepada masyarakat,” ujar Agustiar.
Sebelum berdialog dengan massa, Gubernur menggelar konferensi pers bersama GM PLN UID Kalselteng. Dalam kesempatan itu, Iwan Soelistijino menyampaikan permohonan maaf kepada seluruh pelanggan atas terganggunya pasokan listrik di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan.
Ia menjelaskan gangguan terjadi akibat kerusakan pada tiga unit pembangkit, yakni PLTU PT SKS Listrik Kalimantan (SLK) di Gunung Mas pada 22 Juli, PLTU Asam-Asam pada 23 Juli, serta PLTU PT Tanjung Power Indonesia (TPI) di Tabalong pada 24 Juli. Gangguan tersebut menyebabkan kemampuan pasokan daya pada sistem interkoneksi Kalimantan menurun sehingga PLN harus menerapkan pemadaman bergilir.
Menurut Iwan, satu unit PLTU TPI berkapasitas 100 megawatt telah kembali beroperasi sejak 28 Juli. Dengan tambahan pasokan tersebut, durasi pemadaman berhasil dikurangi dari rata-rata enam jam menjadi sekitar tiga jam per hari.
PLN menargetkan perbaikan satu unit PLTU SLK di Gunung Mas selesai pada 5 Agustus 2026. Setelah unit tersebut kembali beroperasi, pemadaman bergilir ditargetkan dihentikan, meski sistem masih berada dalam kondisi siaga karena cadangan daya masih terbatas. Sementara pemulihan penuh sistem kelistrikan ditargetkan rampung sekitar 25 Agustus 2026 setelah perbaikan PLTU Asam-Asam selesai.
Agustiar meminta PLN menepati komitmen tersebut dan memastikan masyarakat memperoleh kepastian.
“Saya minta jangan ada lagi ketidakjelasan. Masyarakat butuh kepastian, dan PLN sudah menyampaikan targetnya. Pemerintah Provinsi akan terus mengawal agar target itu benar-benar terlaksana,” tegasnya.
Terkait kompensasi bagi pelanggan terdampak, Iwan mengatakan PLN akan mengacu pada ketentuan Peraturan Menteri ESDM. Kompensasi akan diberikan secara otomatis kepada pelanggan yang memenuhi persyaratan, baik pelanggan prabayar maupun pascabayar, sementara besaran kompensasi masih menunggu keputusan dari PLN Pusat.( Red )



























